Langsung ke konten utama

Memulai Kembali: Bagian 1

 



Hai! Rasanya sudah lama sekali, terakhir aku bercerita itu 7 tahun yang lalu, sebelum aku genap berusia 20 tahun. Rasanya agak aneh atau lebih tepatnya kagok ya ingin bercerita kembali. Terlalu banyak hal yang sudah lewat dan terjadi, rasanya jika aku tuangkan dalam sekali posting akan terlalu rumit dan panjang, aku akan mencoba membagikannya sedikit demi sedikit.


Bagian 1:

Pada siang hari seperti hari-hari biasanya, tiba-tiba seseorang mengingatkan aku “kamu gak mau nulis lagi?” Seketika aku teringat, jika aku sangat suka menulis, sebagian masa kecilku kala itu aku habiskan untuk menulis dan membaca buku. Cita-citaku yang dulunya menjadi penulispun sudah aku lupakan sejak lama. Siang itu juga aku obrak abrik arsip blogku yang sudah lama aku tinggalkan. Aku mencari nama blognya dan akhirnya aku temukan dengan banyak arsip yang bahkan belum sempat aku publikasikan. Tertulis arsip pada tahun 2013-2015 saat aku membacanya aku sedikit kaget “selama itukah aku melupakannya?”


Aku masih bisa mengingat dengan jelas, tentang apa yang selalu aku jadikan tulisan pada masa aku masih rajin menulis. Tentang perasaan, saat aku baca kembali satu demi satu kata menjadi kalimat dan paragraf aku jadi semakin yakin, kalau aku mempunyai daya atau indera perasa yang berlebihan dan cukup kuat. Perasaan itu seperti seni abstrak menurut aku, kenapa? Karena gak ada batasnya, gak ada pedomanya, apa yang menjadi titik mulai dan titik akhir. Sepertihalnya menangis mungkin bagi sebagian orang menangis itu hal yang memalukan, tapi sebagian lainnya beranggapan menangis adalah emosi diri, maksudnya adalah bagaimana saat kalian mulai merasa sesak dan penuh di dada, namun tidak bisa dilepaskan bahkan diekspresikan kecuali dengan air mata. Sama halnya dengan perasaan yang abstrak, air mata juga tidak punya identitas bukan? Jika air mata mempunyai identitas, manusia tidak akan membuat kategori lain selain air mata. Nyatanya manusia membuat golongan-golongan tertentu dalam memaknai air mata, seperti; air mata tanda kesedihan, air mata tanda amarah, air mata tanda bahagia, air mata tanda putus asa dan lain sebagainya. 


Keabstrakan perasaan ini membuatku ingin mengulik bagaimana perasaan ini ikut tumbuh bersamaan denganku bertumbuh. Kala itu aku sangat tidak memiliki suara atau energi yang banyak untuk dengan baik mengekspresikan emosi yang sedang menyelubungiku. Seperti saat aku berada dalam situasi debat yang sebernarnyapun aku sangat menyukainya, aku secara otomatis akan begitu saja membeku dengan seluruh tubuhku bergetar dan mengeluarkan air mata kemarahanku, lalu aku akan melakukan silent treatment yang aku pikir kala itu adalah solusi terbaik dari semua masalahku. “Toh semua akan berlalu dan baik-baik aja” namun apakah demikian? Tentu saja tidak, dengan banyaknya tumpukan masalah yang tidak diselesaikan akan menjadikannya trauma dan trauma tidak dengan begitu saja selesai, seperti teori waktu yang akan menyembuhkan yang nyatanya hanya akan menjadikannya bom waktu yang bisa kapan saja meledak, bahkan saat tidak ada apa-apa, semakin aku sadar semakin aku menyadari pada sat aku beranjak dewasa aku menjadi lebih bisa untuk membalas argumen dalam setiap perdebatan, meskipun kadang kala masih terlalu emosional dan menangis lagi, tapi apa salahnya menangis?


Dulu juga aku memiliki prinsip live your life as an exclamation rather than an explanation. Jadi aku lebih memilih tidak menjelaskan apapun, saat aku dipojokkan atau bahkan difitnah pada saat aku tidak melakukannya. Ternyata itu tidak sepenuhnya benar. Aku akan menceritakan secara singkat contoh mengenai hal ini. Pada saat itu adalah masa orientasi mahasiswa baru, dimana para mahasiswa akan dibagi menjadi kelompok secara acak, pada saat itu aku mendapatkan kelompok yang akan membawakan seni peran atau mini drama yang akan dilakukan pada masa orientasi, pada saat itu karena kelompoknya teracak, jadi ada beberapa mahasiswa yang reguler dan lainnya mahasiswa kelas malam seperti aku (biasanya mahasiswa kelas malan dipenuhi oleh mahasiwa yang paginya bekerja dan malamnya berkuliah) singkat cerita kami melalukan latihan dalam beberapa hari sebelum tampil dan pada H-3 kalau aku tidak salah ingat, kami melakukan rekaman yang nantinya bisa mempermudah kami dalam penampilan, jadi kami akan lipsync dan waktu itu aku mendapatkan tugas untuk editing suara yang nantinya akan diberikan backsound lagu atau elemen lainnya. Ada 1 orang mahasiswa yang mendapatkan peran dan harusnya dia datang pada saat rekaman, saat itu kami memilih jam pulang kerja jadi sedikit malam, supaya kami semua bisa berkumpul untuk rekaman. Nah 1 orang mahasiswa ini tidak datang tanpa alasan atau izin kepada kakak tingkat kami, yang menyebabkan kami sekelompok bingung, apa yang harus kami lakukan, maksudnya apakah dia tidak diikut sertakan atau suaranya dipalsukan dari suara anggota yang datang. Karena pada saat itu yang memiliki tugas editing sound adalah aku, jadi aku lumayan sedikit kesal dengan 1 orang mahasiswa ini. Aku sampaikan kekesalanku kepada kakak tingkat, yang nantinya kakak tingkat menegur dia. Tanpa aku tau, ternyata dia sekelas dengan ku pada saat kuliah, karena saat itu angkatan aku hanya memiliki 1 kelas malam, jadi mau tidak mau dan suka tidak suka aku akan sekelas dengannya sampai lulus. Nah, karena aku anaknya memang agak sulit dalam bergaul dan berteman, aku sama sekali tidak menyadari bahwa ada gossip yang tidak enak tentang aku di semua teman sekelasku waktu itu, yang menjadikan aku tidak punya teman baik dan tidak ada yang mau berteman denganku. Seiring berjalannya waktu, kala itu ada tugas kelompok yang mengharuskanku mau tidak mau berbicara dengan salah seorang teman di kelas itu, karna hal itu aku tau selama ini aku dibicarakan hal-hal buruk bahkan hal yang tidak pernah ada dari 1 orang kelompok orientasiku. Dalihku saat temanku bertaya kepadaku, kenapa tidak mencoba menjelaskan padahal jelas-jelas itu bukan kesalahanku, adalah aku terlalu malas menanggapi drama, yang toh aku tau itu bukan hal yang benar. Saat temanku mendengar apa yang aku katakan, saat itu juga dia menjawab “Gimana caranya kita tau kalau itu semua tidak benar? Bagaimana kita tau kalau kamu bukan orang yang seperti dia bicarakan? Kalau kamu sendiri tidak mau berpihak kepada dirimu sendiri dan berkata itu bukan hal yang benar?” Pada saat itupun aku menyadari bahwa hanya diam juga belum tentu menjadi emas. Aku punya beberapa contoh lainnya yang pasti akan aku bagikan nantinya.


Sebagai penutup, aku akan kembali mengatakan bahwa perasaan itu abstrak, tidak ada pedoman dan batasannya, tidak ada titik awal dan akhir yang pasti, yang aku tau pasti perasaan yang baik itu tidak akan melukai perasaan orang lain dengan sengaja ‧₊˚ ☁️⋅♡🪐༘⋆

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertanyaanya adalah…

Belakangan ini aku sering sekali mempertanyakan banyak hal. Kebanyakan pertanyaan itu untuk diri sendiri. Seperti, sebenarnya tujuan aku hidup untuk apa? Apakah aku harus melakukan ini atau itu. Sering kali aku merasa pertanyaan itu begitu menekanku, hingga berulang kali selalu tersesat dalam pertanyaan “sebenarnya salahku apa?” Bukan untuk mengasihani diri sendiri, merasa tidak layak atau apapun, hanya saja banyak hal yang pada akhirnya pertanyaan yang banyak itu tersesat di sana. Pada saat orang lain bertanya apa mimpiku? Kadang aku terperangkap dalam ketakutan seperti; apakah aku layak? Apakah aku bisa? Hingga selalu berakhir dengan aku bahkan tidak ingin mempunyai mimpi. Aku takut jika suatu saat nanti aku tidak akan pernah dekat dengan mimpiku dan tidak akan pernah tergapai mimpi itu. Terdengar sangat ironi, dari kecil saat kita mulai menempuh pendidikan, guru-guru kita selalu membicarakan hal yang sama, seperti mimpilah setinggi langit, mimpilah sebanyak dan setinggi mungkin karn...

Angka Angka Merah Hitam ? Dari Mana Datangnya ?

Pernah lihat kalender kan? Nggak mungkin ngga pernah deh kayaknya ._. pasti semua tau apalagi kalau ada merah merahnya itu loh hahahaha Tapi ngomong ngomong pada tau ngga sih asal kalender itu dari mana? Dari pada search lagi di google mendingan kita bahas aja yuk... teng tong tengg Kalender.. kalau nyebut jadi keinget sama deretan angka hitam merah ya? xixixi sebenarnya kalender itu adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mempermudah kita mengenali pergantian priode dari kesatuan jam (hari) dan kesatuan hari (minggu) atau kesatuan minggu (bulan) atau kesatuan nulan (tahun) dan lain sebagainya kalau diterusin panjang selesainya kapan? hehehe Nah sistem itu merupakan pedoman waktu baik yang lalu, sekarang atau masa depan nanti guys. misalnya aja nyatet tanggal lahir kalian (pasti semua pada punya tanggal lahir kan ya?) trus buat nyatet peringatan penting, pristiwa sejarah dan lain sebagainya. Asal usul kalender itu seperti ini guys... Para nenek moyang kita d...