Langsung ke konten utama

Dipublikasikan pada 30/05/20




            Pernah gak sih waktu lagi dengerin lagu favorit lama kalian, terus kalian mersakan perasaan yang ada di sana? Kenangan, waktu itu, perasaan berdebarnya, senengnya, galaunya bahkan aroma di saat itu? Atau waktu dengerin lagu favorit lama kalian terus biasa aja?

 

Malam ini 30 Mei 2020 di atas kasur beralaskan meja lipat dengan hati yang awalnya biasa aja, perasaan yang awalnya biasa aja berubah menjadi amburadul gak karuan karna alunan lagu yang gak sengaja terputar. Tetes demi tetes air mata tanpa permisi mengalir dan kerjar-kejaran begitu aja dengan santainya. Perasaan sedih atau perasaan yang bahkan gak bisa berkata-kata. BUKAN jika kalian kira ini untuk seseorang, jika kalian kira mood yang berubah drastis ini karna orang lain atau karna galauin orang lain, mohon maaf kalian salah. 

 

Terkadang akupun gak ngerti kenapa indera manusia begitu peka dan begitu mengenal kenangan. Kadang saat aku mencium suatu aroma tanpa bisa aku kendalikan, aku seperti terseret ke sebuah ruang penuh kenangan, tentu saja beserta bagimana perasaan yang hadir dikala itu. Sama halnya saat mendengar musik, bukan hanya musik tapi alunan nada sudah bisa buat aku ditarik ke ruang itu dan mungkin bisa dikatakan keberuntungan atau tidak, ruang penuh kenangan itu tidak ada siapapun di dalamnya, hanya aku sendiri dengan kenangan. Jika dibayangkan seperti aku berada di sebuah ruangan dengan penuh bunga dan aroma bunga itu menyeruak ke seluruh ruangan. Sakit, sedih dan bahagia.

 

Penyanyi favorit aku jaman SD kala itu Afgan, yap hahaha. Alasannya klasik karna dia pakai kacamata, punya lesung pipi dan suaranya khas banget, kalau lagi nyanyi lagu mellow itu cocok dan emang aku suka lagu-lagu mellow gitu dari SD, dan gak terlalu bisa denger lagu berisik atau yang nge-beat. Kalau penasaran apa lagu yang bener-bener buat aku saat ini saat jariku mengetik huruf demi huruf yang kalian baca, judul lagunya itu “Untukmu Aku Bertahan” lirik yang bener-bener buat aku ­deg-degan dan nangis sesenggukan dengan berat. Rasanya aku pengen peluk diriu sendiri sekencang-kencangnya, mungkin kalo gak ada sejarah sama lagu ini yang kalian bisa bayangin “ah apaan sih lagunya” atau “lebay amat lagunya” atau “eleh emang baperan aja sih lu nya” atauuuu “aduh alasan gagal move on” ya bebas hak setiap orang untuk berpendapat. Tapi, nggak ada seorangpun yang bisa mengenal pribadi seseorang dengan sangat sangat sangat baik, ngga ada seorangpun bahkan diri sendiri.


Saat lagu demi lagu mengalun dengan sopan di telinga namun sangat memporak porandakan hati, saat air mata masih enggan untuk berhenti, saat hati masih meronta untuk ditata, saat tarikan di ruang penuh kenangan gak bisa dibantah, yang aku rasakan adalah aku melihat dan merasakan diriku sendiri di pojok ruangan itu sedang jongkok sambil memeluk dua kaki dan menatap kosong entah kemana. Saat ini juga aku ingin meminta maaf untuk diriku sendiri, karena aku egois dan tidak mempertimbangkan hal lainnya sehingga membuat diri sendri sedih, terluka cukup lama dan aku berterima kasih karena sudah bertahan sedemikian rupa, berjuang dengan bersusah payah, untuk tetap waras dan bisa melanjutkan hari demi hari hingga hari ini. 

 

Terkadang aku atau kalian juga bisa lupa untuk lebih menghargai, mencintai dan menyayangi diri sendiri, memaafkan dan menerima diri sendiri, yang tidak kalah penting adalah menerima kenyataan tentang masa depan, tentang masa lalu dan kenangan, terutama masa lalu yang ternyata menyimpan luka yang dibalut kebahagiaan. Menerima jika tidak semua masa lalu bisa dibawa ke masa depan, menerima jika tidak semua masa lalu bisa membuat bahagia dan melepaskan masa lalu yang penuh dengan kebahagiaan yang ternyata menyimpan luka. Sulit? Berat? Iya aku tau tapi bisa, karna aku, kamu dan semua orang berhak bahagia, berhak punya mimpi dan masa depan tanpa bayangan masa lalu. Berhak memaafkan diri sendiri lebih dari memaafkan orang lain. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertanyaanya adalah…

Belakangan ini aku sering sekali mempertanyakan banyak hal. Kebanyakan pertanyaan itu untuk diri sendiri. Seperti, sebenarnya tujuan aku hidup untuk apa? Apakah aku harus melakukan ini atau itu. Sering kali aku merasa pertanyaan itu begitu menekanku, hingga berulang kali selalu tersesat dalam pertanyaan “sebenarnya salahku apa?” Bukan untuk mengasihani diri sendiri, merasa tidak layak atau apapun, hanya saja banyak hal yang pada akhirnya pertanyaan yang banyak itu tersesat di sana. Pada saat orang lain bertanya apa mimpiku? Kadang aku terperangkap dalam ketakutan seperti; apakah aku layak? Apakah aku bisa? Hingga selalu berakhir dengan aku bahkan tidak ingin mempunyai mimpi. Aku takut jika suatu saat nanti aku tidak akan pernah dekat dengan mimpiku dan tidak akan pernah tergapai mimpi itu. Terdengar sangat ironi, dari kecil saat kita mulai menempuh pendidikan, guru-guru kita selalu membicarakan hal yang sama, seperti mimpilah setinggi langit, mimpilah sebanyak dan setinggi mungkin karn...

Angka Angka Merah Hitam ? Dari Mana Datangnya ?

Pernah lihat kalender kan? Nggak mungkin ngga pernah deh kayaknya ._. pasti semua tau apalagi kalau ada merah merahnya itu loh hahahaha Tapi ngomong ngomong pada tau ngga sih asal kalender itu dari mana? Dari pada search lagi di google mendingan kita bahas aja yuk... teng tong tengg Kalender.. kalau nyebut jadi keinget sama deretan angka hitam merah ya? xixixi sebenarnya kalender itu adalah sebuah sistem yang dibuat untuk mempermudah kita mengenali pergantian priode dari kesatuan jam (hari) dan kesatuan hari (minggu) atau kesatuan minggu (bulan) atau kesatuan nulan (tahun) dan lain sebagainya kalau diterusin panjang selesainya kapan? hehehe Nah sistem itu merupakan pedoman waktu baik yang lalu, sekarang atau masa depan nanti guys. misalnya aja nyatet tanggal lahir kalian (pasti semua pada punya tanggal lahir kan ya?) trus buat nyatet peringatan penting, pristiwa sejarah dan lain sebagainya. Asal usul kalender itu seperti ini guys... Para nenek moyang kita d...

Memulai Kembali: Bagian 1

  Hai! Rasanya sudah lama sekali, terakhir aku bercerita itu 7 tahun yang lalu, sebelum aku genap berusia 20 tahun. Rasanya agak aneh atau lebih tepatnya kagok ya ingin bercerita kembali. Terlalu banyak hal yang sudah lewat dan terjadi, rasanya jika aku tuangkan dalam sekali posting akan terlalu rumit dan panjang, aku akan mencoba membagikannya sedikit demi sedikit. Bagian 1: Pada siang hari seperti hari-hari biasanya, tiba-tiba seseorang mengingatkan aku “kamu gak mau nulis lagi?” Seketika aku teringat, jika aku sangat suka menulis, sebagian masa kecilku kala itu aku habiskan untuk menulis dan membaca buku. Cita-citaku yang dulunya menjadi penulispun sudah aku lupakan sejak lama. Siang itu juga aku obrak abrik arsip blogku yang sudah lama aku tinggalkan. Aku mencari nama blognya dan akhirnya aku temukan dengan banyak arsip yang bahkan belum sempat aku publikasikan. Tertulis arsip pada tahun 2013-2015 saat aku membacanya aku sedikit kaget “selama itukah aku melupakannya?” Aku masih...